Selamat Datang Di Blog ini Semoga Bermanfaat... Terima Kasih Kunjungannya

Kamu Suka ini?

KALIMANTAN TENGAH, WACANA PEMBERDAYAAN DAN PEMBANGUNAN

KALIMANTAN TENGAH, WACANA PEMBERDAYAAN DAN PEMBANGUNAN



Tanggal 23 Mei 2011 kita merayakan Hari Jadi Ke-54 berdirinya Kalimantan Tengah sebagai sebuah provinsi otonom Republik Indonesia. Sekalipun sejak tahun 1957 saban tahun Hari Jadi dirayakan, tapi secara jujur saya mengatakan keraguan yang sangat, bahwa semua Uluh Kalteng, baik angkatan muda maupun Uluh Kalteng dari yang sudah lama bermukim di sini maupun yang baru datang, tahu sejarah provinsi ini. Keraguan besar ini disebabkan sejarah Kalteng, paling tidak selama 37 tahun, sejak Gubernur Tjilik Riwut didepak ke atas oleh Orde Baru di tahun 1967 mempelajari sejarah Kalteng tidak menjadi kepentingan banyak pihak. Karena sejarah Kalteng mengandung sebuah cita-cita, visi-misi, metode untuk mewujudkan visi-misi tersebut yang bertentangan dengan pandangan dan sikap menjadikan Kalteng sebagai hanya daerah usaha, eksploitasi, bahkan daerah yang harus ditaklukan dan dikuasai, bukan daerah kampung-halaman yang patut dibangun. Untuk itu manusianya patut dilucuti secara kebudayaan, dan hasil pelucutan budaya selama paling tidak 37 tahun, bahkan lebih panjang lagi jika dihitung sejak Pertemuan Damai Tumbang Anoi 1894, kita tuai sekarang. Penduduk hanya 2,5 juta, tapi kekayaan alam yang kaya raya tidak mampu menyejahterakan pendudukan 2,5 juta itu, lebih-lebih lagi tidak membahagiakan Uluh Itah, pejuang dan pendiri provinsi ini melalui jalan bersimbah darah dan airmata. Apabila tidak ingin ketidaktahuan sejarah dan budaya ini berlanjut, maka mulok patut fokus pada soal sejarah, bahasa dan budaya, tidak pada yang lain. Yang lain bisa dilakukan secar ekstra kurikuler.



Di atas, saya katakan bahwa berdirinya Kalteng termasuk menunjukkan metode yang dipilih untuk memberdayakan dan membangun suatu daerah, jika tidak mau menggeneralisasikan lebih luas ke tingkat nasional. Metode ini oleh Prof. Dr.Ir. Sajogyo dari IPB Bandung 10 tahun lebih silam,dalam diskusi dengan penulis menyebutnya sebagai Jalan Kalimantan. Kata Kalimantan ini untuk Sulawesi, bisa diganti dengan Sulawesi, di Papua dengan Jalan Papua, dan seterusnya. Inti dari Jalan Kalimantan (Jalan Kalteng) sebagai metode pemberdayaan dan pembangunan adalah pemberdayaan dan pembangunan yang berangkat dari kondisi dan budaya lokal. Memperhitungkan peran manusia sebagai aktor dan tujuan pemberdayaan dan pembangunan. Manusia yang dimaksud adalah manusia yang manusiawi dengan komitmen manusiawi, bukan manusia tukang kosong wacana. Tukang yang bisa menjelma menjadi komoditas dan penjegal pemberdayaan dan pembangunan. Yang diperlukan adalah manusia yang manusiawi dan berketerampilan tinggi. Jalan Kalimantan sebagai metode pemberberdayaan dan pembangunan, juga mengutamakan kemandirian, tanpa menolak investasi, tapi tidak membiarkan investor jadi raja mengelola daerah, tapi pemerintah yang mengatur mereka. Kalimantan Tengah dan manusianya menurut pandangan jalan ini, bukanlah komoditas obralan. Metode ini pulalah yang kemudian dilakukan oleh para tahanan politik Orde Baru dengan berhasil mengobah Pulau Buru yang tandus menjadi pulau subur hijau sawah dan kebun.



Sejak tahun 1957 sampai dengan tahun 1967, manusia-manusia pembangun Kalimantan Tengah menerapkan Jalan Kalimantan untuk memberdayakan dan membangun Kalteng dari tiada menjadi ada, dari kecil berkembang jadi besar. Kalteng diberdayakan dan dibangun tidak dengan modal barisan sarjana, profesor doktor, tidak dengan limpahan dana tapi bermodalkan manusia-manusia Dayak panarung dengan dua tangan dan kepalanya. Barisan sarjana, progfesor doktor sekarang adalah hasil perjuangan mereka yang mandi darah mendirikan dan membangun Tenda dijadikan tempat tinggal dan kantor sekaligus. Saya khawatir sejarah begini dilupakan dan tidak diketahui oleh Uluh Kalteng dari berbagai angkatan; Lupa seperti dicanangkan oleh penulis Ceko Milan Kundera memang gampang memerosotkan manusia.



Untuk menggambarkan keadaan Kalteng sebelum 1957 dan pada 1957 hingga tahun 1960an, di sini saya mengutip apa yang ditulis oleh TT. Suan, salah seorang sangat dekat dengan Tjilik Riwut sejak membangun Kalteng. Dalam tulisannya: ‘’Limapuluh Empat Tahun Provinsi Kalimantan Tengah’’yang disumbangkan untuk antologi esai tentang Kalteng:’’Budaya Dayak:Masalah dan Aternatifnya’’, antara lain menulis:



‘’Di daerah pedalaman, jual-beli dilakukan dengan sistem barter. Barang-barang hasil bumi dan lain-lain ditukar dengan barang-barang keperluan sehari-hari seperti tekstil, pakaian, garam, gula dan sebagainya. Keadaan menjadi lebih parah dan menyedihkan karena dalam barter ini, para pedagang menjual barang-barangnya dengan harga cukup tinggi, sebaliknya barang hasil bumi Rakyat pedalaman seperti rotan, karet, getah jeluntung, damar, sirap, madu, dan lain-lain dihargai dengan sangat rendah Keterpurukan ini. makin diperparah lagi oleh keadaan transpor yang sepenuhnya bersandar pada sungai dan laut dengan sarana dan prasarana yang sangat langka. Kehidupan dan kegiatan ekonomi Rakyat, lalu lintas barang sangat tergantung pada ‘’distribusi’’ dari Kota Banjarmasin, sebagai kota pelabuhan dan ibukota Provinsi Kalimantan . Keadaan pendidikan dan kesehatan tak usah dikatakan lagi. Apalagi yang disebut pembangunan. Sangat menyedihkan adalah arti dan gambaran Kalimantan Tengah pada waktu itu” (TT.Suan, 2011).



Kalimatan Tengah berarti keterbelakangan total.Diterbelakangkan secara sistematik dan jadi sasaran agresi termasuk agresi budaya dan desivilisasi.



Secara angka, selanjutnya TT. Suan menggambarkan aset awal Kalteng ketika didirikan pada 1957 sebagai berikut:



‘’Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari tiga Kabupaten Otonom meliputi 46 kecamatan dan 859 kampung/Desa.Keadaan pendidikan di tiga kabupaten ‘’baru menginjak’’ tingkat Sekolah Dasar dan beranjak ke tingkat menyelenggarakan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP-SMP) . Jumlah SD sebanyak 412 buah, jumlah murid 35.000 orang, SMP Negeri sebanyak 4 buah, SMP Swasta 9 buah dengan jumlah siswa (Negeri & Swasta sebanyak 996 orang). Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMTA-SMA) baik Negeri maupun Swasta belum ada. Rumah Sakit Umum ada dua buah, yaitu RSU Sampit milik Pemerintah dn RSU Kuala Kapuas, milik Swasta. Untuk melayani kesehatan penduduk Kalimantan Tengah yang berjumlah kurang lebih 400.000 jiwa hanya ada tiga orang dokter, tenaga bidan, jumlahnya sampai hitungan jumlah jari sebelah tangan, tenaga perawat pun kurang sekali. Jalan darat merupakan lanjutan jalan Banjarmasin-Hulu Sungai sampai Ampah sepanjang 40 km. Yang berupa jalan tanah perkerasan terdapat di Pangkalan Bun-Kumai sepanjang kurang lebih 15 Km. Pelabuhan yang ada hanya pelabuhan antar pulau (inter insuler) dan Pelabuhan Pantai. Yang agak besar dan ‘’sibuk” adalah Pelabuhan Sampit.Pelabuhan-pelabuhan pantai yang ada yaitu Kumai, Kuala Pembuang, Kuala Jelai dan Pegatan. Pelabuhan Udara hanya terdapat dua buah, yaitu Sabah Uyah yang sekarang bernama Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, dan ‘’Pelabuhan Air” di Sampit hanya disinggahi pesawat terbang “amfibi” jenis Catalina dan Twin Otter. Jembatan (itupun dari kayu) hanya terdapat satu buah, melintasi Sungai Karau di Ampah. Pertanian /Perkebunan yang agak berarti adalah kebun karet milik rakyat. Demikian juga saah dan ladang rakyat, luas seluruhnya sekitar 36.726 hektare. Perikanan (Sungai dan Laut), menurut data 1957/1958, jumlah produksinya mencapai 36.023 ton.’’ (TT.Suan, 2011).



Sedangkan keadaan Kalteng pada tahun 2009 menjadi sebagai berikut: Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terdiri dari 13 kabupaten dan 1 kota, 120 kecamatan, 67 kadamangan, 124 kelurahan dan 1.356 desa. Jumlah SD Negeri 2.359 Unit, SD Swasta 288 buah, jumlah murid (Negeri dan Swasta) sebanyak 282.377 orang. SLTP (Negeri dan Swasta) 494 buah dengan jumlah siswa sebanyak 84.059 orang, SLTA (Negeri dan Swasta) 208 buah dengan jumlah siswa 41.023 orang. Dan Perguruan Tinggi/Universitas sebanyak 10 buah. Untuk tigabelas Kabupaten dan satu Kota, semua telah memiliki Rumah Sakit Umum (RSU), seluruhnya terdapat 14 RSU. Puskesmas 141 buah Puskesmas Pembantu (Pustu) sebanyak 714 buah, Polindes 581 buah, Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) 1.993 unit. Tenaga Dokter 132 orang, terdiri dari dokter spesialis 46 orang, dokter , dokter umum 29 orang, dokter gigi 57 orang, Perawat sebanyak 1.936 orang, Bidan 1.079, dan Apoteker sebanyak 36 orang.Jalan Darat Menurut ‘’kelasnya’’ adalah: Jalan Negara yang melintasi Kalimantan Tengah sepanjang 1.714.,67 km, Jalan Provinsi 1.776.15 km, Jalan Kabupaten sepanjang 8.710,67 km dan Jalan Kota 826,43 km.Bandara/Lapangan Terbang ada 9 buah (yang terbesar adalah Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya sekaligus ‘’pintu gerbang” memasuki Kalimantan Tengah).Pelabuhan (Samudera, Antar Pulau dan Pantai) sebanyak 10 buah. Jembatan konstruksi baja bentangan panjang 200-500 meter lebih melintasi sungai-sungai besar yang telah ada dan sedang dan (mulai) dibangun lebih dari 15 buah.( ’Kalimantan Tengah Dalam Angka Tahun 2009’’, Kerjasama BAPPEDA Kalimantan Tengah dengan Biro Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah).



Capaian-capaian di atas, betapapun belum maksimal, tapi merupakan hasil dari penerapan Kalimantan Tengah sebagai Jalan Pemberdayaan dan¨Pembangunan. Meninggalkan Jalan Kalteng akan menghancurkan Kalteng.***



KUSNI SULANG, Anggota Lembaga Kebudayaan Dayak Kalimantan Tengah, Palangka Raya.

No Response to "KALIMANTAN TENGAH, WACANA PEMBERDAYAAN DAN PEMBANGUNAN"

Postingan Popular

KOMPAS News Regional

Berita Lingkungan Nasional

Lowongan Kerja di Kalimantan Tengah